Donasi Dakwah Abadi Alumni Fakultas Ilmu Budaya

Dakwah adalah sebuah proses yang panjang dan membutuhkan pengerahan bermacam-macam potensi agar ia dapat berhasil dengan baik. Potensi itu dapat berupa kader dakwah (SDM), infrastruktur, maupun finansial.

Belajar Secara Perlahan Namun Pasti

...pengetahuan-pengetahuan kita terhadap sesuatu, sesederhana apa pun ia, kadang menjadi penting, terutama dalam kondisi-kondisi khusus. Bahkan jika sesuatu itu sering kita lihat.

Yang Paling Berat…

Masyarakat dunia mengatakan zaman sekarang adalah zaman keterbukaan informasi. Setiap individu berhak memperoleh maupun mengakses informasi apa pun di berbagai belahan dunia. Dunia maya pun akhirnya berlomba-lomba menyuguhkan informasi sebanyak-banyaknya, terkini dan tepercaya.

Hikmah Sahur

Salah satu yang disunahkan Rasulullah Saw. ketika puasa adalah sahur, lebih utamanya lagi mengakhirkan sahurnya. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Puasa, sahur adalah hidangan yang dimakan pada waktu sahr (dini hari), yaitu setelah pertengahan malam hingga fajar.

JEREJAK MIMPI DI KAMPUS BUDAYA

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu. Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan.

Selamat Datang

Situs ini didonasikan oleh perusahaaan live skor indonesia sebagai sarana silaturahim para da'i alumni Fakultas Ilmu Budaya UGM sekaligus untuk menyebarkan informasi seperti perkembangan donasi, agenda, artikel, dan tulisan-tulisan lainnya. Dengan hadirnya situs ini, diharapkan menjadi media informasi dan komunikasi bagi alumni Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Kamis, 01 September 2011

Momen untuk Merdeka, Sebenarnya!


Masyhur di kalangan para sejarawan Amerika, bahwa pada masa awal dibangunnya negara itu, Amerika banyak membawa budak dari Afrika untuk melakukan berbagai pekerjaan yang mereka miliki. Para budak itu mereka beri makan setiap hari, mereka tidak perlu tahu bagaimana caranya mencari uang, yang mereka tahu hanyalah mengerjakan apa yang menjadi perintah majikanya. Namun, ada kalanya perlakuan majikan terhadap budaknya melewati batas, sehingga tidak sedikit dari para budak itu yang akhirnya melarikan diri. Pada beberapa budak yang beruntung memiliki majikan yang baik, mereka diperkenankan untuk membayar tebusan sejumlah uang jika ingin merdeka. Tercatat bahwa tidak sedikit budak yang merdeka dengan jalan ini. Namun, masalah tidak berhenti pada sebatas soal merdeka atau tetap menjadi budak. Karena status merdeka itu memberikan konsekuensi.
Maka dapat dijumpai tidak sedikit di antara para budak yang berhasil merdeka itu yang akhirnya kebingungan mau apa setelah merdeka. Hal ini dikarenakan mereka sudah terlalu lama berada dalam penguasaan orang lain, sehingga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sebagai manusia bebas. Banyak di antara mereka yang tidak bisa mencari nafkah, sehingga tidak sedikit dari mereka yang akhirnya memutuskan diri untuk kembali menjadi budak. Karena dalam benak mereka, menjadi budak lebih mudah daripada harus menjadi manusia bebas.
Namun tidak boleh dimungkiri bahwa tetap ada di antara mereka yang memilih untuk bertahan, membentuk semacam kelompok agar mereka tetap bertahan menghadapi kerasnya hidup di luar sana, setelah mereka terlepas dari perbudakan. Dan kelompok ini berhasil.
Selalu ada risiko dalam setiap kemerdekaan. Sebuah risiko untuk mampu tetap exist di tengah segala keterbatasan yang ada. Lihatlah ketika Indonesia berhasil memerdekakan diri dari penjajahan. Begitu banyak hal yang harus dibenahi, tampuk pemerintahan harus segera diisi agar urusan pelayanan publik terjamin dengan baik, urusan kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan hingga pertahanan untuk menjaga agar penjajah tidak kembali lagi ke negeri ini.
Ya, butuh usaha lebih keras untuk bisa bertahan karena tidak ada lagi majikan atau penjajah yang mengatur segala sesuatunya. Kita yang sebelumnya tidak tahu banyak tentang atur mengatur pemerintahan dan segala hal yang menguasai hajat hidup orang banyak, tiba-tiba harus menanganinya, maka jika ada hal-hal yang kurang pas di sana-sini, hal itu masih bisa dimaklumi. Semua akan lebih baik seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kemampuan.
Namun merdeka bukan hanya soal bangsa yang terbebas dari belenggu penjajah. Merdeka juga bisa sangat personal sebagaimana yang saya uraikan di atas. Bukan saja merdeka dari belenggu penjajahan orang lain, tetapi juga merdeka dari segala belenggu penjajahan diri. Momen Ramadhan adalah momen yang paling tepat untuk berlatih memerdekakan diri. Kita berlatih untuk tidak mau dijajah oleh nafsu. Dan tentunya, engkau sudah mahfum bagaimana rasanya. Selalu dibutuhkan kesabaran lebih ekstra,tekad lebih kuat, dan kesadaran untuk tetap bebas yang lebih besar.
Boleh jadi, bagi sebagian orang, menjadi merdeka terlihat lebih menderita. Bahkan bagi sebagiannya lagi, merdeka memang terasa menderita. Bagi mereka, lebih mudah untuk hidup di bawah penjajahan, lebih mudah untuk hidup dalam belenggu, karena hidup dalam kondisi seperti itu, mereka hanya cukup bekerja sesuai perintah penjajah. Mereka tidak harus berpikir bagaimana harus mandiiri, bagaimana harus mencari makan sendiri. Mereka “menikmati” keterjajahan mereka.
Ramadhan adalah momen untuk memerdekakan diri dari nafsu, sehingga diharapkan setelah kita berproses selama sebulan di dalamnya, kita sudah terbiasa untuk tidak terjajah dan terlepas dari belenggu nafsu kita. Maka, Allah menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya, boleh jadi adalah untuk merayakan kemerdekaan kita atas diri kita sendiri yang sudah tidak terjajah nafsu.

sumber gambar dari sini
Maka tanyakanlah pada diri kita, apakah kita sudah merdeka atas diri kita?

Sabtu, 27 Agustus 2011

Keluarga MUSLIMAH Ilmu Budaya

Mozaik 1, menjelang Idul Adha 1431 H

“KMIB isinya akhwat semua ya?”

Celetukan itu terlontar begitu saja, ketika saya berdua dengan mbak Noni Rumawas berkunjung ke sekretariat SKI fakultas tetangga. Silaturahmi ke berbagai SKI fakultas lain ini merupakan salah satu program kerja divisi Jaringan KMIB. Mendengar komentar ‘ringan’ itu, saya hanya bisa senyam-senyum kecut dan berdalih, “Hehe iya maaf ya, pak ketua dan yang lainnya lagi ada agenda lain…”


 Mozaik 2, Ramadhan di Fakultas 1431 H

Talkshow-nya kan di Auditorium, bazar bukunya kita pindah ke depan Audit juga aja.”

Beberapa akhwat segera bergerak sigap, memasukkan buku-buku ke kardus-kardus yang tersedia dan membawanya atas. Sebagian akhwat yang lain bergegas langsung menuju pelataran depan Audit, menata meja-meja di sana untuk membuat stand bazar. Tapi hey, yang mengangkat-angkat kardus buku ke atas, yang menggeret-geret meja, kenapa akhwat semua? Sementara di depan pintu Auditorium sana, persis di depan mata kami yang berkeringat lari-lari bolak-balik dari bangku coklat ke plasa lantai 3, beberapa ikhwan terlihat sedang mengobrol dengan santainya. Dan saya pun geregetan.


Mozaik 3, Ramadhan di Desa 1431 H

“Besok pas baksos ikhwannya boleh istirahat sebentar, Salsa?”
“Hmm, ya nggak papa sih. Toh kalian juga udah biasa membiarkan akhwat-akhwatnya ngangkat-angkat buku ke lantai 3, ngangkat-angkat meja, dan lain-lain.”

Esok paginya, keajaiban terjadi. Baru saja kami mau menggeret-geret meja untuk menata stand sembako dan baju, ikhwan-ikhwan itu tanpa dikomando langsung bergerak. “Udah, udah, biar ikhwannya aja. Harga diri nih, harga diri!” sergah mereka seraya mengambil alih meja-meja itu dari kami. Dan kami pun hanya bisa terpana.


Mozaik 4, percakapan sehari-hari

“Kemaren yang dateng acara KMIB siapa aja?”
“Si ini, si itu, mbak ini, mbak itu.”
“Kok akhwat semua -,-?”
“Hahaha, namanya juga Keluarga Muslimah Ilmu Budaya!”


Wahai saudara seiman-seperjuangan kami yang laki-laki, di mana kalian~?

Salsabilla Sakinah_Arkeologi 2009

JEREJAK MIMPI DI KAMPUS BUDAYA

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu. Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan…

Agustus 2009
Langkahku ringan menapaki anak-anak tangga menuju lantai 2 Gedung C Fakultas Ilmu Budaya. Dipenuhi buncahan ghirah, niatku ke sini pagi ini hanya satu: datang ke Open House Keluarga Muslim Ilmu Budaya, salah satu rangkaian acara Ramadan di Fakultas yang juga bertepatan dengan momen PMB. Aku masihlah maba yang ingin menjajal sesuatu yang baru. Dan tak ada yang ingin kucoba terlebih dahulu selain kerohanian Islam, melanjutkan apa yang pernah kuikuti dulu di SMA.
Akhwat bergamis biru yang lamat-lamat kukenal bernama Mbak Icha tersenyum begitu melihat kedatanganku. Atmosfer di lantai 2 masih sepi, acara belum dimulai. Akulah akhwat yang datang pertama kali. Kemudian aku bertemu dengan akhwat-akhwat yang lain; baik kakak-kakak penyelenggara, maupun sesama maba. Aku sudah tak asing dengan Mbak Noni yang ketika itu menemukanku luntang-lantung sendirian di antara hiruk-pikuk orang di Koperasi Mahasiswa.
Ustadz Salim A. Fillah yang bakal mengisi acara belum datang, jadilah kami taarufan dan menonton video inspiratif bertajuk “Jejak-Jejak Mimpi”. Sebuah statement yang begitu memberkas dalam ingatanku adalah, “Tuliskan impian anda secara nyata, jangan ditulis dalam ingatan saja.” Maka, sepulangnya dari sana, kutuliskan harapanku nomor sekian dengan font besar-besar di buku harian: KULIAH DI JEPANG.

Awal Tahun 2010
Fakultas Ilmu Budaya. Tempat yang empat tahun silam kuharapan sebagai tempatku menuntut ilmu. Harapan itu tercapai, Allah memang menakdirkan aku berada di sana. Meski pada awal aku menjejakkan kaki di sana, ada sekelumit rasa ketidaksukaan. Banyak mahasiswa yang berpenampilan ala seniman, sama sekali tidak syar’i, asap rokok mengepul di mana-mana. Aih, jika mengatasnamakan budaya—budaya macam apa yang mereka junjung sedemikian rupa?
Apalagi cerita-cerita dari dosen yang pernah kuterima bukan isapan jempol semata, namun fakta yang pernah terjadi. “Pernah lho, saluran di FIB mampet. Pas disedot, ternyata penyebabnya adalah banyak kondom di sana.”
Suatu ketika, alumni SMA-ku berkumpul dalam kepanitiaan Try Out UM-UGM. Ketika itu, isu yang sedang merebak adalah NII (Negara Islam Indonesia), terkait masalah teman sejurusanku yang menjadi korban perekrutan—lantas ia mencari korban lain, tak dinyana calon korbannya adalah teman SMA-ku, mahasiswi FKU. Teman-temanku dari fakultas lain itu meracau tentang FIB yang rawan, kampus yang ‘menakutkan’. “Apalagi LEM-nya begitu…” ucap seorang kawan. Ah, sudah menjadi open secret jika kampusku agaknya memang susah dikondisikan.
Di sebuah forum akhwat, ketika sesi curhat, lagi-lagi kutemukan komentar, “Di FIB kasihan ya, dakwahnya berdarah-darah…” Ada rasa perih yang menyergap tiba-tiba. Ya, berdarah-darah itu sudah pasti perih.
Aku di KMIB sebagai staf Media Opini. Meski ini cocok dengan minat menulisku, namun aku merasa pasif,. Tak ada gerakan masif terkait divisi ini. Lesu.
*
Kuatkanlah ikatannnya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Terangilah dengan cahaya-Mu, yang tiada pernah padam. Ya Rabbi, bimbinglah kami…

Menjelang Ramadan 1431 H
Aku diamanahi menjadi Panitia Konseptor acara Ramadan di Fakultas. Ada ribuan buncahan rasa gembira menyambut datangnya bulan suci ini, terlebih ketika membingkainya dalam nikmat ukhuwah. Ada banyak program yang kami persiapkan waktu itu. Di antaranya adalah Open House KMIB dan Sinema Ramadan. Dua acara yang sepi, menurutku. OH-Talk Show mengusung tema yang ‘wah’: “Menjadi Mahasiswa Muslim yang Aktif dan Berprestasi”, ternyata masih menyisakan begitu banyak ruang di Auditorium. Ya, tak banyak yang datang. Terlebih Sinema Ramadan yang bahkan aku saja tak tahu menahu tentang publikasinya. Hanya panitia yang datang menonton. Itu pun tak semuanya.
Momen Ramadan kali ini juga masih bertepatan dengan momen PPSMB, OSPEK mahasiswa baru yang kulturnya sedikit-banyak masih mengadopsi nilai-nilai lama. Saat itu aku sudah mengenal istilah ‘anak-anak belakang’, mereka yang lebih mengedepankan seni, senang hura-hura, dan sebagainya. Ah, bahkan bulan suci harus dinodai dengan pesta alkohol dan musik-musik berisik yang sama sekali tidak syar’i. Astaghfirullahal’adziim.
Kadang ketika masih ada di kampus sore hari, menanti maghrib, aku tak mendengar kumandang adzan dari mushala. Malah suara genjrang-genjreng band fakultas yang masih saja bergaung dari ruang berjudul Sekretariat Bersama.
Pentas, pesta, dan hura-hura adalah sesuatu yang lazim di sana, meski jujur aku tak suka.

Penghujung tahun 2010-Awal 2011
Di antara gemuruh ombak pantai yang menghempas daratan, aku dan beberapa akhwat lainnya sedang menyusun strategi. Strategi perang kami menghadapi lawan yang berdiri di seberang garis. Ya, memang hanya dibatasi garis. Namun kami harus tetap atur strategi biar tak terkena timpukan plastik berisi air gula. Ini memang cuma mini games. Sudah terlalu sering mengalaminya, ditanyai tentang ibrah yang terkandung di dalamnya, dan kami lancar tanpa hambatan ketika menjawabnya. Aih, menjawab tanpa ada kemampuan untuk merealisasikannya ya sama saja!
Dengan gejenya dan over confidence, untuk yel-yel kami mengadopsi sebuah lagu pop yang kemudian liriknya diganti menjadi: “Mau dibawa ke mana KMIB ini?” Ironis. Namun, siapa mau menyangkal?
 Aku lantas teringat sebuah komen di buku pesan KMIB, entah siapa yang begitu ‘tega’ menuliskannya dengan huruf kapital besar-besar: “KMIB YANG MALANG, KURANG MASIF, GAK ADA GREGETNYA SAMA SEKALI!”
Memang, kepengurusan di tahun kemarin terasa lengang. Jarang ada agenda-agenda dakwah rutin di fakultas. Buku-buku perpustakaan Al-Adab banyak yang menghilang sebab kurangnya manajerial. Kajian juga jarang diadakan. Di sisi lain, minimnya kader menjadi penyebab yang sering diisukan. Akhwat lumayan banyak, sedangkan ikhwan? Hingga tak pelak muncul anekdot KMIB-Keluarga Muslimah Ilmu Budaya.
Sebuah event (maaf) geje sempat terjadi. Mengadakan acara tanpa susunan kepanitiaan yang pasti. Jadilah yang datang ke forum hanya 4 orang. Miris sekali. Esoknya, seorang ustadz dari UI sempat berkelakar dalam forum diskusi yang beliau bawakan, “Kalau sekarang ada film Alangkah Lucunya Negeri Ini, jangan-jangan nanti ada film berjudul Alangkah Lucunya Dakwah Ini.”
Ah, tidak-tidak! Jangan sampai ada film berjudul demikian, meski sempat terbersit dalam pemikiranku tentang potongan adegan-adegannya.
*
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal pada-Mu. Hidupkan dengan makrifat-Mu, matikan dalam syahid di jalan-Mu. Engkaulah pelindung dan pembela…

Ya Rabbi, kami yang sedikit ini adalah manusia-manusia yang Engkau pilih… Semakin berat medan yang dihadapi, maka kekuatan dan daya tahan yang dimiliki juga seharusnya kian meninggi. Kami yang sedikit ini sedang berada di lahan dakwah bernama FIB, dengan sejumlah tantangan yang tak bisa dibilang gampang. Kami paham mengapa Engkau menempatkan kami di lahan itu, karena kami ‘mampu’ berjuang di sana.
Jika hari ini masih gelap, dan nanti akan bertambah pekat, maka sesungguhnya itu akan semakin dekat dengan fajar (mengutip bahasa Ustadz Salim A. Fillah).
Kini aku kembali memutar video motivasi yang sudah berulang kali kutonton. “Tuliskan impian anda secara nyata, jangan ditulis dalam ingatan saja.” Ya, sekarang aku akan menuliskannya. Di sini. Bahwa Islam yang membumi di FIB bukanlah sebuah idealita tanpa realita. Ia akan menjelma nyata, mengakar dan menjadi denyut nadi dalam keseharian kampus kita. Kampus islami, kampus madani, kampus impian yang kita dambakan; Fakultas Islami Banget Universitas Gemar Mengaji.
Maka, mulailah mengukir jejak, jejak-jejak mimpi kita tentang dakwah ini.


Septalia A. Wibyaninggar_Sastra Inggris 2009

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites